Rabu, 13 Oktober 2010

KOMPETISI

Sekumpulan kura-kura terperosok ke dalam lubang. Mereka semua berusaha keras untuk keluar dari lubang itu. Kura-kura yang satu menaiki tubuh kura-kura lainnya. Tapi yang dibawah pun nggak rela tubuhnya dijadikan tumpuan oleh kawannya. Akibatnya mereka semua jadi berebut memanjat dan saling menjatuhkan. Bisa ditebak, usaha mereka sama sekali nggak ada hasilnya. Yang ada hanyalah perpindahan posisi di atas dan di bawah, tapi tak seekor pun yang bisa keluar dari sana.

Kompetisi. Semua kenal kata yang satu ini. Apalagi hidup di jaman sekarang. Sepertinya nggak ada hal yang bisa diperoleh dengan mudah tanpa harus berkompetisi dulu. Bursa kerja selalu aja dipenuhi ribuan calon pelamar, padahal hanya beberapa puluh orang aja yang akan diterima. Mengikuti ujian SPMB juga hampir sama. Sstt... ngedapetin cowok/cewek keren pun juga harus bersaing dulu kan? Rasanya seolah semua hal di dunia ini harus melewati persaingan dulu.

Dengan kompetisi yang ketat ini, kadang-kadang kita bisa jadi stress. Gimana nggak, setiap tahun ada penambahan satu juta pengangguran di negara kita. Kita yang masih kuliah bisa jadi ngeri membayangkan sulitnya mendapat pekerjaan kelak. Daripada stress dengan kompetisi yang ada saat ini, mendingan kita melakukan kompetisi dengan diri sendiri.

Apa lagi neh?

Kompetisi dengan diri sendiri adalah “hari ini kita harus menjadi lebih baik dari hari kemarin”. Setiap hari kita mengukur kemajuan diri sendiri. Sudahkah aku menjadi lebih sabar dari hari kemarin, lebih berani jujur dari hari kemarin, lebih rajin dari hari kemarin, dan seterusnya. Berkompetisi dengan diri sendiri merupakan tantangan terbesar dalam hidup. Kalo kita bisa berhasil mengalahkan diri kita yang kemarin, hal itu jauh lebih hebat daripada memenangkan kompetisi apapun lainnya. Jadi beranikah kamu melakukannya mulai hari ini?

Selasa, 14 September 2010

KACAMATA

Baik atau buruk itu tergantung dari cara kita memandang. Masalah bisa menjadi buruk tapi bisa juga menjadi baik, itu juga tergantung dari cara kita memandang. Lihatlah hal yang baik dengan cara pandang yang buruk, maka hal itu akan terlihat sedemikian negatif. Sebaliknya, lihatlah hal yang buruk dengan cara pandang yang baik, secara mengejutkan kita akan melihat hal-hal yang positif.

Dean Black menceritakan dua kisah nyata mengenai hal ini dalam buku Frogship Perspective. Seorang pemain bola basket berbakat, ketika berusia 16 tahun kehilangan kedua kakinya dalam sebuah kecelakaan. Ini hal yang buruk bagi Curt Brinkman, pebasket muda tersebut yang akhirnya menjadi atlet kursi roda terkenal. Ia berkata, “Segera sesudah kecelakaan itu saya bangkit. Saya justru tidak tahu seperti apa kalau kaki saya masih ada.” Seorang pria setengah baya melihat kembali dari kebutaan matanya semenjak lahir. Lalu seorang psikolog yang menanganinya berkomentar tentang mantan pria buta ini, “Waktu buta, dia hebat sekali. Tapi waktu dia sembuh, prestasinya merosot drastis, bahkan seperti orang bodoh.” *

Bagi kita kehilangan kedua kaki adalah masalah besar, tapi bagi Curt Brinkman justru adalah kunci kesuksesan. Bagi kita mendapat kembali penglihatan adalah hadiah, tapi bagi pria separuh baya tersebut adalah masalah besar. Mengapa bisa demikian? Ini bukan soal masalahnya, tapi soal bagaimana kita melihat sebuah masalah. Perlu saya tekankan sekali lagi, lihatlah hal yang baik dengan cara pandang yang buruk, maka hal itu akan terlihat sedemikian negatif. Sebaliknya, lihatlah hal yang buruk dengan cara pandang yang baik, maka kita akan melihat hal-hal yang positif.

Apakah hari ini kita sedang mengalami masalah? Bagaimana cara kita memandang masalah tersebut? Tuhan selalu mengajar agar kita melihat segala masalah dari sudut pandang yang positif. Ini seperti orang yang memakai kacamata. Memakai kacamata hitam akan membuat obyek yang paling terangpun akan terlihat gelap. Jadi jika hari ini hidup Anda terlihat begitu suram dan gelap untuk dijalani, jangan-jangan yang salah adalah kacamata Anda.


Lihatlah setiap masalah yang paling buruk sekalipun dengan kacamata positif.

Starting Over with Handel


George Frederick Handel mungkin adalah komponis yang namanya tidak seterkenal Mozart atau Beethoven. Namun Anda semua pasti mengenal lagu ‘Halleluyah’, atau lebih tepatnya opera ‘The Messiah’. Lagu ini adalah masterpiece Handel. Seorang penulis biografi Handel menulis, "karya tersebut akan tetap menjadi karya terbesar dalam sejarah penggubahan lagu/musik. Mungkin untuk selamanya".

Handel sebenarnya sudah mulai terkenal sejak usia 8 tahun. Sejak usia itu ia sudah mahir bermain organ dan pernah tampil di depan Pangeran Frederick III dari Berlin. Bahkan kota-kota besar di Eropa juga pernah disambanginya. Namun nama besar bukanlah jaminan. Karena situasi, Handel kehabisan uang, nyaris bangkrut dan antusias penonton tak lagi berpihak padanya. Itu makin diperparah oleh kesehatannya yang semakin memburuk (terkena stroke hingga tangan kanannya lumpuh). Meski akhirnya bisa disembuhkan, Handel memutuskan untuk pensiun dari dunia musik yang telah membesarkannya.

Empat bulan setelah konser perpisahannya, seorang bernama Charles Jennings memberikan sebuah buku musik kepada Handel. Buku itu ditulis berdasarkan kehidupan Yesus. Tak disangka ternyata buku itu mampu mengubah hidup Handel. Ia pun menulis karya-karyanya lagi. Kreativitasnya mengalir terus menerus selama 21 hari tanpa henti dan dalam waktu tiga minggu itu, ia berhasil merampungkan ‘Messiah’ setebal 260 halaman, dengan bobot karya yang tak tertandingi.

Nama besar Handel sempat menjadi contoh sebuah kegagalan. Namun itu bukanlah penghambat untuk seseorang kembali bangkit dan menjadi sukses. Gagal bukanlah aib, kita bisa berkali-kali gagal, namun apakah kita bisa bangkit lagi atau tidak itu intinya. Mungkin sekarang kita sedang terpuruk akibat sesuatu yang kita lakukan atau alami. Namun dari situ, bukan mustahil akan muncul karya masterpiece kita. Asalkan kita berani untuk memulai lagi dan siap menanggung risiko, sukses tentu akan bisa diraih.

Terpuruk tidaklah buruk, berani bangkit akan melejit

Senin, 13 September 2010

Indoktrinasi

Indoktrinasi adalah sebuah proses yang dilakukan berdasarkan satu sistem nilai untuk menanamkan gagasan, sikap, sistem berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu. Praktik ini seringkali dibedakan dari pendidikan karena dalam tindakan ini, orang yang diindoktrinasi diharapkan untuk tidak mempertanyakan atau secara kritis menguji doktrin yang telah mereka pelajari. Instruksi berdasarkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan, khususnya, tak dapat disebut indoktrinasi karena prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan menuntut evaluasi diri yang kritis dan sikap bertanya yang skeptis terhadap pikiran sendiri.

Indoktrinasi merujuk kepada serangkaian kegiatan yang berbeda-beda, sehingga upaya mencari definisi yang tunggal menjadi sulit. Di bidang psikologi, sosiologi, dan penelitian pendidikan, istilah-istilah yang lebih tepat seringkali lebih dipilih, termasuk (namun tak terbatas pada): sosialisasi, propaganda, manipulasi, dan cuci otak.

Indoktrinasi agama merujuk kepada ritual peralihan yang tradisional untuk mengindoktrinasi seseorang ke dalam suatu agama tertentu dan komunitasnya. Kebanyakan kelompok agama mengajarkan anggota-anggotanya yang baru tentang prinsip-prinsip agama tersebut. Hal ini biasanya tidak disebut sebagai indoktrinasi karena konotasi negatif kata tersebut. Agama misteri membutuhkan suatu masa indoktrinasi sebelum seseorang dapat memperoleh akses kepada pengetahuan esoterik.

Noam Chomsky menyatakan, "Bagi mereka yang gigih mencari kemerdekaan, tak ada tugas yang lebih mendesak daripada memahami mekanisme dan praktik-praktik indoktrinasi. Semuanya ini mudah ditemukan dalam masyarakat-masyarakat totaliter, namun lebih sulit dalam sistem 'cuci otak di dalam kebebasan' yang menguasai kita semua dan yang seringkali kita layani sebagai alat-alat yang suka rela atau yang tidak menyadarinya."

Robert Jay Lifton berpendapat bahwa tujuan dari frasa atau slogan-slogan seperti "darah untuk minyak," atau "sikat dan lari," tidak dimaksudkan untuk melanjutkan percakapan yang reflektif, melainkan menggantikannya dengan frasa-frasa yang menggugah emosi. Teknik ini diisebut klise pembunuh pikiran.